AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM SEKOLAH YANG BERDAMPAK PADA MURID
AKSI NYATA MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM SEKOLAH YANG BERDAMPAK PADA MURID
IMPLEMENTASI PROGRAM EKSTRAKURIKULER LINGKUNGAN HIDUP DIVISI BUDIDAYA MAGOT BSF SMAN 1 JAMBLANG KABUPATEN CIREBON
Oleh : Yuliasih
Prihatin_CGP Angkatan 4_SMAN 1 Jamblang Kabupaten Cirebon
A. FACT
Sampah
dipandang sebagai sesuatu yang menjijikkan sehingga harus dibuang adalah
pandangan yang keliru untuk saat ini. Dapatkan Anda bayangkan jika semua sampah
harus dibuang? Berapa penambahan volume sampah tiap hari? Apakah cukup tempat untuk
bumi ini terus menerus untuk menerima sampah? Bagaimana dampaknya bagi
kesehatan manusia? Pertanyaan-pertanyaan lain akan terus muncul mengenai sampah
ini karena manusia akan terus memproduksi sampah. Saat ini, mari Kita balik
paradigma mengenai sampah. Kita ambil sisi lainnya yakni memandang sampah sebagai
aset yang dapat diambil manfaatnya. Apa yang dapat kita manfaatkan dari sampah?
Apa yang akan dilakukan untuk mengambil manfaat itu? Apa dampaknya jika sampah
kita kelola dengan baik? Seberapa jauh rujukan reuse, reduce, dan recycle sudah
dilakukan dalam pengelolaan sampah?
SMAN 1 Jamblang sebagai sekolah adiwiyata harus memiliki konsep yang jelas mengenai pengelolaan sampah ini. Keresahan ini mendorong Saya sebagai guru penggerak untuk membangun komunitas praktisi pengelolaan sampah organik melalui budidaya magot BSF. Saya ajak rekan guru yang memiliki keresahan yang sama dan mau bergerak bersama, yakni Ibu Hj. Tati Hartati, M.Pd. sebagai pembina ekstrakurikuler lingkungan hidup, Bapak Saman Afianto, S.Pd. sebagai pembina ektrakurikuler kewirausahaan, Bapak Drs. Gapi Kresnadi sebagai wakasek sarana prasarana dan ketua program adiwiyata, Bapak Gunawan Eka Saputra, S.Pd sebagai wakasek kesiswaan, dan Ibu Irma Yani, S.Pd sebagai praktisi budidaya magot BSF, serta tidak kalah pentingnya adalah kader-kader hebat dari murid perwakilan tiap kelas. Divisi ini melengkapi divisi pengelolaan sampah lainnya yakni kompos dan bank sampah. Divisi budidaya magot BSF ini dibentuk sebagai alternatif dalam pengelolaan sampah organik sisa makanan yang apabila tidak dikelola dengan baik dan ditimbun dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan akan memproduksi gas metan (CH4) yang berbahaya dan dapat menimbulkan ledakan.
Divisi budidaya magot BSF adalah program yang memiliki tujuan menumbuhkembangkan tanggungjawab, kerjasama atau gotong royong, mandiri, percaya diri, berpikir kritis, kreatif, kepemimpinan, dan jiwa kewirausahaan murid. Murid juga diajak untuk mengembangkan ketrampilan bersosialnya dengan mitra komunitas luar sekolah yakni PT. Indocemen sebagai nara sumber dalam budidaya magot BSF, dalam hal ini adalah Bapak Agus dan Bapak Misnen. Program ini juga dilandasi oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman yakni “Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman”. Program pengelolaan sampah organik melalui budidaya magot BSF sebagai pembaharuan yang terpadu yang melibatkan murid. Murid berdiskusi, menentukan langkah, dan melaksanakan program sebagai unjuk promosi suara, pilihan, dan kepemilikan murid. Guru dengan perannya sebagai pemimpin pembelajaran dan pewujudkan kepemimpinan murid, dan dengan nilainya yakni kolaboratif dan berpusat pada murid, menuntun murid dalam melakasanakan program ini sehingga visi yang berdampak pada murid terwujud. Program ini juga sebagai salah satu strategi dalam pewujudan budaya positif sekolah, pengembangan minat (pembelajaran berdiferensiasi), dan pengelolaan sosial emosional. Program ini juga melatih pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya yang ada. Program ini dibuat berdasarkan ketersediaan sumber daya yang ada, sisa bongkaran bangunan dapat dimanfaatkan sebagai kandang magot, sisa makanan kantin dan rumah tangga sebagai pakan magot, modal manusia yang memiliki kemauan, modal sosial dari PT. Indocemen yang mendukung dan memfasilitasi pelaksanaannya. Program ini diadakan berdasarkan keinginan murid dari diskusi dengan perwakilan kelas dan OSIS yang menginginkan lingkungan sekolah yang bersih dan mendukung program adiwiyata.
Langkah
awal yang dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan dan pembekalan biokonversi
pengelolaan sampah organik melalui budidaya magot BSF yang dilaksanakan pada
tanggal 16 Maret 2022 (gambar 1). Pada kegiatan tersebut dibekali dengan pengenalan
alat, bahan, dan cara pembudidayaan magot BSF, serta praktik langsung ke
kandang magot BSF yang terletak di bagian belakang sekolah yang sudah
dipersiapkan sebelumnya. Tanggal 22 Maret 2022, pemanenan larva (gambar 2). 30
Maret 2022, pembuatan dan pemberian pakan magot dari sampah organik sisa
makanan (gambar 3). 6 April 2022, monitoring dari PT. Indocement (gambar 4). 11
April 2022, mendapat kunjungan dari Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia
(HPAI), Ibu Hj. Yuni (gambar 5). 12 April 2022 adalah panen pertama kali dengan
hasil seberat 15 kg fress magot BSF dan diperuntukkan pakan lele di sekolah
(gambar 6). Magot BSF yang sudah menjadi prapuva diambil untuk siklus
selanjutnya menjadi lalat BSF dan dibiakkan untuk generasi ke 2. Saat ini, 26
Juni 2022, sedang berlangsung penetasan telor magot BSF generasi ke 2.
Pada
proses pembiakan hingga pemanenan, ditemukan kendala antara lain adalah pada
tanggal 20 Mei 2022, Kami mendapati media tempat magot BSF terlalu lembap,
sehingga dilakukan penyaringan magot BSF dan memindahkannya ke media yang lebih
representatif untuk tumbuh kembang magot (gambar 7). Pada tanggal 10 Juni 2022, proses kawin lalat
BSF kurang maksimal, ditandai dengan enggannya lalat untuk mendekati ke lalat
lainnya. Kami konsultasikan kepada Bapak Agus, dan mendapat solusi jika lalat
BSF dalam masa perkawinan harus dalam kondisi pencahayaan yang kuat atau
terang. Kandang magot BSF dipindahkan keluar sehingga mendapat cahaya yang kuat
(video 1). Dari kendala yang ditemui dan solusi yang dijalankan, dijadikan
pembelajaran untuk periode budidaya magot BSF selanjutnya.
B. FEELING
Pada
pelaksanaan program ini, Saya merasakan semangat dan bahagia dalam
menjalankannya, apalagi melihat antusiasme dari murid. Program ini dapat
terlaksana karena kolaborasi yang sangat baik dari komunitas praktisi sekolah dengan
komunitas praktisi luar sekolah yakni PT. Indocemen, serta tidak kalah
pentingnya adalah kepemilikan murid yang sangat besar terhadap program ini
karena merupakan suara dan pilihan mereka.
C. FINDING
Pembelajaran
yang didapat dari menjalankan program ini adalah dari impian yang mulia yakni ingin
mengurangi sampah akan mendapatkan jalan yang mudah jika direncanakan dan
dilaksanakan melalui program yang memberdayakan modal yang tersedia, yaitu
orang-orang yang tepat, yakni komunitas yang mendukung, murid yang
mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikannya, sarana prasarana yang ada,
finansial yang mendukung, lingkungan, masyarakat sekitar, kebijakan, dan
lain-lain.
D. FUTURE
Untuk
lebih menguatkan dan meningkatkan ke pencapaian tujuan program ini, Saya akan
membentuk struktur organisasi, rencana kerja yang tertuang dalam alur BAGJA dan
dijabarkan dalam program kerja. Murid akan lebih banyak dilibatkan dan
bersama-sama menetukan langkah selanjutnya dan tak kalah pentingnya adalah
refleksi dari apa yang dilakukan agar lebih baik lagi. Di awal tahun ajaran
baru 2022/2023, bersama ekstrakurikuler lingkungan hidup akan merekrut anggota
atau kader baru. Semoga akan terlaksana.
Komentar
Posting Komentar